Kasus Influenza A Meningkat, IDAI Ingatkan Risiko Berat pada Anak


HAIJABAR.ID – Kasus Influenza A kembali menunjukkan peningkatan di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Kementerian Kesehatan RI mencatat subtipe Influenza A H3N2 subclade K telah terdeteksi di 13 provinsi.
Peningkatan aktivitas influenza tersebut menjadi perhatian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Anak-anak disebut menjadi salah satu kelompok yang rentan terinfeksi influenza dan mengalami komplikasi serius.
“Data global menunjukkan bahwa anak usia 0-17 tahun memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami infeksi influenza simtomatik dibandingkan orang dewasa. Sistem imun anak masih naif, sehingga tubuh mereka belum cukup kuat untuk segera mengendalikan dampak infeksi virus,” kata Dr dr Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K), Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia pada Selasa, (22/9/2026).
Ia juga mengatakan dika anak cenderung mengeluarkan virus dalam jumlah yang lebih banyak dan lama sehingga dapat berpotensi menjadi sumber penularan di lingkungan.
“Anak juga cenderung melepaskan virus dalam jumlah lebih banyak dan lebih lama, sehingga berpotensi menjadi sumber penularan di lingkungan keluarga dan sekolah,” lanjutnya.
Prof Dr dr Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI menekankan pentingnya deteksi dini dan tata laksana yang tepat, terutama pada anak dengan faktor risiko.
Influenza pada anak dapat berkembang menjadi komplikasi serius, seperti pneumonia, eksaserbasi asma, miokarditis hingga ensefalopati.
“Diagnosis laboratoris sangat penting, terutama dengan RT-PCR yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi serta mampu mengidentifikasi subtipe virus. Terapi antivirus neuraminidase inhibitor, seperti oseltamivir, efektif bila diberikan dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul. Namun, yang tidak kalah penting adalah pencegahan melalui vaksinasi tahunan dan penerapan protokol kesehatan,” tegas Prof Anggraini.
Secara global, influenza diperkirakan menyebabkan sekitar 1 miliar infeksi setiap tahun. Penyakit ini juga diperkirakan menyebabkan 3-5 juta kasus berat dan 290 ribu hingga 650 ribu kematian terkait gangguan pernapasan.
Kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi meliputi anak di bawah 5 tahun, lansia, ibu hamil, individu dengan penyakit kronis, serta tenaga kesehatan dan pengasuh.
Menurut data WHO Western Pacific Region periode 1 September 2025 hingga 30 Agustus 2026, aktivitas influenza di zona transmisi Asia Tenggara terus meningkat.
Di Indonesia, pemantauan sentinel menunjukkan aktivitas positif influenza yang berfluktuasi sepanjang tahun, dengan puncak pada akhir 2025 dan kembali mengalami peningkatan pada pertengahan 2026.
Data IDAI menunjukkan sekitar 5 persen anak yang terinfeksi influenza memerlukan rawat inap. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen merupakan anak di bawah usia 2 tahun, dengan 50 persen di antaranya berusia kurang dari 6 bulan.
Anak di bawah 5 tahun memiliki morbiditas yang tinggi, terutama mereka yang menghadiri tempat penitipan anak, memiliki kelainan neurologi dan tumbuh kembang, tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang atau berada di area padat penduduk.
“Anak dapat menularkan virus influenza sejak 24 jam sebelum gejala muncul hingga 10 hari setelahnya. Oleh karena itu, anak yang sakit harus diisolasi di rumah, tidak boleh dibawa ke sekolah atau tempat bermain sampai benar-benar pulih. Etika batuk, cuci tangan rutin, rajin minum air putih untuk mengurangi dehidrasi, dan penggunaan masker tetap menjadi langkah pencegahan non-farmakologis yang sangat efektif,” tambah Prof Anggraini.