1.400 Warga Daftar Program Kerja Jepang, Hanya 57 Orang dari Cirebon yang Lolos


HAIJABAR.ID – Peluang bekerja di Jepang kembali dibuka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon. Sebanyak 57 warga Kabupaten Cirebon lolos program pelatihan bahasa dan budaya Jepang 2026 setelah melewati proses seleksi.
Puluhan peserta tersebut dilepas dalam kegiatan yang digelar pada Jumat pagi, (2/10/2026). Program ini menjadi salah satu upaya Pemkab Cirebon membuka akses kerja sekaligus menekan angka pengangguran.
Minat masyarakat mengikuti program tersebut cukup tinggi. Dari sekitar 1.400 orang yang mendaftar, hanya 57 peserta yang dinyatakan lolos setelah melalui sejumlah tahapan seleksi.
Bupati Cirebon Drs H Imron Mag mengatakan program pelatihan bahasa dan budaya Jepang tersebut merupakan program tahunan yang kini memasuki tahun kedua.
Menurut Imron, program tersebut tidak hanya ditujukan untuk membuka kesempatan kerja di Jepang, tetapi juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan keluarga peserta sekaligus memberikan pengalaman baru.
“Tujuannya yang pertama mengurangi pengangguran. Kedua, supaya anak-anak ini mendapatkan pemasukan untuk keluarga. Ketiga, untuk pembelajaran,” kata Imron.
Program tersebut juga menyasar masyarakat kurang mampu, termasuk warga yatim. Pemkab Cirebon memberikan subsidi biaya pelatihan bagi peserta yang lolos seleksi.
Imron mengatakan perhatian khusus diberikan kepada masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi agar program tersebut dapat membantu keluarga peserta.
“Ini orang-orang yang tidak mampu, ada juga yang yatim. Ini untuk membantu keluarga,” jelasnya.
Imron juga berharap para peserta dapat mengambil pengalaman positif selama berada di Jepang untuk kemudian diterapkan ketika kembali ke Kabupaten Cirebon.
“Yang saya harapkan, anak-anak kita yang ke Jepang mengambil yang bagus-bagus, kemudian diterapkan di kita,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Cirebon Novi Hendrianto SSTP MSi mengatakan tingginya jumlah pendaftar menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap peluang kerja di luar negeri.
Dari sekitar 1.400 pendaftar, Disnaker kemudian melakukan penyaringan sesuai ketentuan program yang diperuntukkan bagi warga Kabupaten Cirebon.
“Ada yang dari Medan, Kalimantan dan wilayah tiga yang daftar. Tapi karena ini programnya Kabupaten Cirebon, tentunya kita filter lagi,” kata Novi.
Peserta yang lolos mendapatkan subsidi biaya pelatihan sekitar Rp15 juta per orang.
“Kurang lebih satu orang itu Rp15 juta. Kita subsidi untuk biaya pelatihan,” ujarnya.
Untuk proses pemberangkatan dan penempatan kerja, Disnaker Kabupaten Cirebon telah bekerja sama dengan sejumlah pihak, di antaranya KPPR, ISO dan perbankan.
Melalui skema tersebut, peserta tidak dibebani biaya pelatihan maupun biaya penempatan karena telah difasilitasi oleh program.
“Untuk pemberangkatannya kita sudah kerja sama dengan pihak KPPR, ISO dan perbankan. Jadi masyarakat ini tidak direpotkan dengan biaya pelatihan dan biaya penempatan. Semua sudah terfasilitasi,” jelas Novi.
Novi meminta para peserta mempersiapkan mental dan fisik serta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh. Kemampuan bahasa Jepang menjadi salah satu bekal penting sebelum peserta bekerja di Jepang.
“Tinggal siapkan mental, fisik, belajar yang tekun. Insya Allah bisa berangkat ke Jepang,” katanya.
Mayoritas peserta nantinya diarahkan bekerja di sektor manufaktur. Disnaker Kabupaten Cirebon tidak merekomendasikan sektor pertanian berdasarkan laporan yang diterima terkait persoalan pembayaran upah dan perlindungan pekerja.
“Kebanyakan di manufaktur. Kita tidak merekomendasikan untuk di sektor pertanian karena berdasarkan laporan, seperti gaji kadang telat dan perlindungannya kurang,” ungkapnya.
Disnaker Kabupaten Cirebon juga akan melakukan pendampingan selama peserta menjalani program di Jepang.
Setelah masa magang selesai, peserta tetap akan dikawal agar memiliki peluang melanjutkan hubungan kerja di Jepang.
“Setelah magang kita kawal untuk bisa lanjut bekerja,” pungkasnya.